Tuesday, May 3, 2011

Jalan-Jalan

Di Takengon itu paling asyik buat jalan-jalan. Selain karena cuaca yang dingin juga punya tempat-tempat yang enak dan asyik untuk singgah. Tapi, kadang cuaca dingin ini jadi masalah buat pendatang. Bisa buat wajah agak hitam dan kulit bisa kering. Mungkin ini akibat kelembaban ya.

Dulu, saat masih tingkat TK dan SD, kebetulan saya di MIN. Kalau masih tinggal di kota, pasti asyik ke Danau, jalan kaki. Selain cuaca yang dukung, situasi juga dukung. Maksudnya, di rumah, belum tentu ada satu kendaraan, apalagi satu anggota keluarga ada kendaraan macam sekarang. Jadi pergi bisa ramai-ramai, asyik lah pokoknya. 

Dulu, saat ke masjid raya, mau shalat Jumat, semua penduduk kota jalan ke masjid. Jarang yang naik kendaraan yang pakai mesin. Tak ada keluh kesah, semua riang gembira walau jalan kaki.

Dulu, kalau pun ingin ke tempat yang agak jauh, naik sudako atau labi-labi. Kalau pun naik motor (mobil), pasti perginya sama-sama. Biasanya kalau mau pergi ke pesta atau acara lain (kenduri).
Tapi sekarang, kalau mau jalan-jalan tak bisa lepas dari kendaraan. Kalau tak ada kendaraan, malas jalan-jalan. Ke masjid yang hanya 100 meter saja, harus naik "kereta" atau "honda" (sebuatan buat sepeda motor). Kalau jalan khawatir berkeringat, konon lagi ke masjid raya, wuih pasti tak ada yang ingin. Sekarang kalau mau jalan jauh sudah jarang naik sudako atau labi-labi. Sudah sering naik kendaraan pribadi, malah satu Innova hanya berisi dua orang. Bayangkan, untuk acara itu, butuh puluhan mobil dan puluhan orang. Bisa penuh jalan. Kalau pun ingin naik moda umum, pasti becak jadi pilihan. Masalahnya becak juga masih punya pribadi. Artinya tak ada dasar hukum dari pemerintah kabupaten, bagaimana mengatur becak di jalan raya dan bagaimana tarif dan retribusinya ke kabupaten. Yang pasti, maaf, buat penuh jalan saja. Saya sendiri setuju sih ada becak, tapi lebih setuju lagi kalau diatur dengan baik dan terarah.

Malah heran sekarang, orang pada marah kalau jalan banyak lubangnya. Marah kalau jalan macet. Penginnya semua buru-buru. Padahal, jarak ujung ke ujung kota ini hanya kurang lebih 5 kilometer. Orang tak sadar, termasuk saya juga, yang buat jalan banyak lubang ya kita sendiri karena terus beri beban ke jalan. Macet, juga karena jiwa kita tak lagi sehat untuk patuhi lalu lintas. Semua hanya pikir untuk diri sendiri, yang lain tak penting. Kalau rasa tak nyaman dengan kendaraan atau orang lain, mudah saja, tinggal pencet KLAKSON!

Ya, jalan-jalan saat ini sudah ada nilainya di ujung KLAKSON orang lain. :)

No comments:

Post a Comment